Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Tuesday, May 28, 2013

Bedah Kasus : Keputusan Tuhan terhadap Sodom dan Gomora




Banyak yang berpendapat bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan yang tidak pernah berubah dalam segala hal, termasuk juga dalam keputusan, kehendak dan rencanaNya. Namun, hal ini pun masih dipertentangkan oleh beberapa teolog. Karena menurut beberapa teolog, Tuhan memang tidak berubah, tetapi itu dalam hal kasihNya, sifatNya, kuasaNya, pribadiNya, dll. Tetapi dalam hal keputusanNya, Tuhan bisa saja berubah sesuai dengan belas kasihanNya terhadap doa-doa yang kita panjatkan. Sehingga dalam mengharapkan suatu hal, kita dapat memintanya dalam doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, sampai Tuhan mengabulkannya. Mungkin istilah akronim PUSH (Praying Until Something Happend) lahir dengan konsep pemikiran seperti ini, sehingga kita dapat bernegosiasi dengan Tuhan. Seperti contoh Abraham yang bernegosiasi dengan Tuhan tentang Sodom dan Gomora. Terlihat sekilas Tuhan merubah keputusanNya dalam cerita ini. Tetapi apakah benar seperti itu? Apakah Tuhan dapat dinegosiasikan? Apakah keputusan Tuhan dapat berubah sesuai dengan doa kita? Mari kita pelajari dari kasus Abraham yang tawar-menawar terhadap kota Sodom dan Gomora dalam Kejadian 18:16-33.


A. BEDAH KASUS

1. NO NAME
Kej 18:16  Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka.

Dalam ayat ini ada kata orang-orang dan kata mereka yang tidak diketahui namanya. Untuk itulah kita harus baca pasal 18 ini dari awal, secara khusus mari kita baca terlebih dahulu dalam Kej 18:1-3.

Kej 18:1  Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.
Kej 18:2  Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,
Kej 18:3  serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.

Kita dapat melihat, bahwa ada TUHAN yang sedang menampakkan diri kepada Abraham. Kata TUHAN dalam bahasa aslinya ditulis יהוה - yehôvâh (yeh-ho-vaw'), sedangkan kata Tuanku dalam ayat yang ketiga dalam bahasa aslinya ditulis אדני - 'ădônây (ad-o-noy'). Abraham menyebut Yehovah/YHWH sebagai adonay karena orang Yahudi tidak boleh menyebut nama YHWH. Nama itu bagi mereka suci, kudus, agung, mulia dan sakral. Jadi disebut adonay sebagai pengganti YHWH. Jadi kita sudah mendapatkan nama pertama.   

Tetapi bila diperhatikan dengan saksama, kita akan mendapatkan suatu kejanggalan yang besar dari Kej 18:1-3. Apabila memang YHWH sedang menampakkan diri kepada Abraham secara langsung, kenapa Abraham tidak langsung mati? Contoh dalam kasus lain: Pada saat Uza mengulurkan tangan kepada tabut Allah, ia mati. Karena tabut Allah adalah lambang kehadiran YHWH yang kudus (2Sam 6:6-7). Lambang kehadiran YHWH saja dipegang langsung mati, apalagi Abraham yang sedang berhadapan langsung kepada YHWH. Logikanya, Abraham seharusnya juga mati pada saat itu. Tentunya kita harus belajar dalam hal ini, bahwa pada saat YHWH sedang menampakkan diri, Dia mengambil wujud seorang manusia, atau yang biasa disebut dengan Teofani dalam dunia Teologi. Teofani (rupa Tuhan/ wujud Tuhan) berarti Tuhan menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Tuhan sendiri. Dalam hal ini, Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa/wujud manusia. Dan dua orang lainnya adalah Malaikat yang akhirnya menolong Lot dari peristiwa Sodom dan Gomora dalam Kejadian 19:1. Jadi ada tiga orang selain Abraham, yaitu YHWH dan dua malaikatNya.


2. TUHAN BERFIRMAN
Kej 18:17  Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
Kej 18:18  Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
Kej 18:19  Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Kata “berpikirlah TUHAN” dalam ayat ini bukan berarti Tuhan sendiri yang tahu. Tuhan tidak sedang berkata dalam hati dalam ayat ini (walaupun Alkitab versi IBIS menterjemahkan “berkata dalam hati” dalam kata ini), tetapi bisa dikatakan Tuhan sedang berbicara secara verbal dalam ayat ini. Karena dalam bahasa Inggris, terjemahan kata ini adalah “and the LORD said”. Said dalam bahasa aslinya ditulis אמר - 'âmar (aw-mar'). Kata ini sama dengan yang dipakai dalam ayat 20 (berfirmanlah TUHAN). Jadi bila di imajinasikan, Abraham bersama Tuhan beserta kedua malaikatNya sedang memandang sodom sambil berbincang-bincang. Dalam hal ini, Tuhan yang sedang berbicara. Namun yang menjadi pokok pemikiran dalam ayat 17-19 adalah Tuhan sama sekali tidak menyinggung bahwa Dia akan menghancurkan Sodom dan Gomora, Tuhan hanya sedang mengingat kembali janjiNya terhadap Abraham. Jadi Abraham belum mengetahui tentang rencana Tuhan terhadap Sodom dan Gomora dalam ayat ini.

Kej 18:20  Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.
Kej 18:21  Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."

Apakah Tuhan memberi tahu rencanaNya terhadap sodom dan gomora secara spesifik dalam ayat ini? Tidak! Tuhan hanya menegaskan bahwa dosa Sodom dan Gomora sangat berat. Dalam bahasa aslinya, dosa itu sudah menjadi habitatnya. Mereka senang hidup dalam dosa. Jadi tidak ada pemberitahuan tentang rencana Tuhan terhadap Sodom dan Gomora kepada Abraham.


3. RESPON ABRAHAM
Kej 18:23  Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?

Setelah Tuhan selesai berfirman, Abraham langsung merespon dari segala keterbatasannya sebagai seorang manusia yang fana. Ada dua respon yang menarik dari ayat 23. Respon pertama Abraham tentang orang benar dan orang fasik dan respon yang kedua tentang rencana Tuhan dan kesimpulan Abraham. Mari kita pelajari respon Abraham dalam ayat ini.

Respon 1 – Orang Benar dan Orang Fasik
Karena kedua malaikat itu pergi (ay.22). Akhirnya pembicaraan tinggal Abraham dengan Tuhan. Respon Abraham yang pertama adalah membandingkan antara orang benar dengan orang fasik, sebelum kita melihat hal ini lebih jauh. Mari kita berpikir sejenak, apakah Abraham tahu tentang kejahatan yang terjadi di Sodom dan Gomora? Seharusnya ia sudah tahu, karena kejahatan yang dilakukan orang-orang dalam kota Sodom dan Gomora sangat terkenal, sehingga banyak orang yang mengeluhkan hal ini kepada Tuhan (ay.21) dan paling tidak, Abraham sudah mengetahui betapa berat dosa orang-orang Sodom dan Gomora karena Tuhan sudah memberi tahu di ayat 20. Jadi Abraham sudah tahu bahwa orang-orang di Sodom dan Gomora adalah orang fasik (tidak peduli terhadap perintah Tuhan).

Abraham mengira bahwa Tuhan akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik. Bila Abraham sudah mengetahui bahwa di Sodom dan Gomora hanya berisi orang-orang fasik, mengapa ia masih mengharapkan bahwa ada orang benar di sana? Tentu Abraham ingat dengan keponakannya yang tinggal di Sodom, Lot. Pertanyaan yang akan timbul berikutnya adalah apakah Lot orang benar? Apakah kehidupan benar di mata Tuhan? Bila kita melihat dari keturunan Lot, terutama kedua anak perempuannya yang akhirnya memperkosa Bapaknya sendiri, bagaimana dapat dikatakan bahwa Lot adalah orang benar? Apalagi dari keturunan Lot akan lahir Ben-Ami dan bani Amon yang kelak menjadi musuh keturunan Abraham, Israel (Hak.10:11-18; 1Sam 14:47-48; 2Raj 3:21-27; 2Taw 20:11). Bila kita hanya melihat dari keturunannya saja, pasti kita akan meragukan bahwa Lot adalah orang benar, tetapi pada kenyataannya Lot adalah memang orang benar di Sodom dan Gomora (2Pet2:7-8).

2Pet 2:7  tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, --
2Pet 2:8  sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa--

Ayat ini mempertegas bahwa Lot adalah orang benar yang tersiksa jiwanya karena dia harus hidup bersama-sama dengan orang-orang yang tidak mengenal hukum dan hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Mungkin penyebab dua anak perempuannya yang memperkosa Bapaknya sendiri, disebabkan oleh lingkungannya yang sudah “kotor”. Seperti ada tertulis bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1Kor 15:33).   Jadi doa Abraham sebenarnya hanya tertuju kepada Lot sebagai orang benar beserta keluarganya juga, bukan kepada seluruh orang yang ada di kota Sodom dan Gomora, karena Abraham juga mengetahui bahwa orang-orang di Sodom dan Gomora hanya berisi orang fasik.

Respon 2 – Rencana Tuhan dan Kesimpulan Abraham
Respon yang kedua adalah tentang rencana Tuhan yang kontradiksi dengan kesimpulan Abraham. Di ayat 23 ini, Abraham meresponi firman Tuhan dengan kesimpulannya sendiri, karena di ayat 17-21 sudah dijelaskan bahwa Tuhan tidak mengatakan secara spesifik tentang rencanaNya terhadap Sodom dan Gomora. Tuhan tidak mengatakan bahwa akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik. Ini hanya kesimpulan Abraham sendiri. Abraham menyimpulkan seperti itu karena sayang dengan Lot, untuk itulah dia berusaha menyelamatkan Lot. Jadi sebenarnya Abraham tidak tahu rencana atau keputusan Tuhan secara keseluruhan.  Abraham hanya mengetahui bahwa Sodom dan Gomora sangat berat dosanya, dan karena dia kenal dekat dengan Tuhan. Maka ia juga tahu bahwa bila ada dosa maka ada hukuman (sebab akibat). Itulah sebabnya ia mengambil kesimpulan bahwa semua orang yang ada di Sodom dan Gomora akan dihancurkan tanpa terkecuali dan ia ingat kepada keponakannya akan mati, bila kota itu dihancurkan. Sekali lagi penulis menekankan, bahwa sebenarnya tidak ada yang tahu tentang rencana atau keputusan Tuhan sejelas-jelasnya dari awal.


4. SIAPA YANG BERUBAH?
Kej 18:24  Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?
Kej 18:25  Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim seKejap bumi tidak menghukum dengan adil?”

Abraham melanjutkan kekeliruan dari kesimpulannya di ayat 25. Dia menggunkan kata yang tidak pantas kepada Tuhan dan terlihat bahwa dia marah kepada Tuhan di ayat 25. Dia marah, karena dia masih berpikir Tuhan akan melenyapkan Lot.

Kej 18:26  TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.”

Orang Israel kuno percaya bahwa kejahatan yang dilakukan satu atau beberapa orang dapat merusak komunitas secara keseluruhan (Ul 21:1-9). Di sini Abraham berdalih sebaliknya: beberapa orang benar (keluarga Lot) dapat menyelamatkan seluruh komunitas yang kebanyakan berbuat jahat. Jadi, dugaan bahwa ada 50 orang benar di kota itu mungkin didasarkan atas potensi pengaruh Lot sebagai orang benar. Mungkin Abraham berpikir, bila Lot menjadi pengaruh yang baik, maka kemungkinan ada 50 orang yang selamat. Tetapi pada kenyataannya tidak, karena orang-orang fasik di kota tersebut sudah senang hidup dalam dosa.

Kej 18:27  Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.
Kej 18:28  Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Firman-Nya: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”
Kej 18:29  Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.”
Kej 18:30  Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.”
Kej 18:31  Katanya: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.”
Kej 18:32  Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.”
Kej 18:33  Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
 
Dari ayat 25 dan 27 jelas sekali perubahan Abraham. Di ayat 25 tadinya dia marah-marah kepada Tuhan, itu pun karena akibat dari keliru dalam menarik kesimpulan firman Tuhan di ayat 20 dan 21. Jadi Tuhan tidak berubah dalam tawar menawar ini, tetapi Abraham yang berubah. Perubahan Abraham sangat jelas, dia menyadari bahwa dia telah bersalah, itulah sebabnya ia menyadari bahwa ia hanyalah debu dan abu (ay.27), yang berarti dia hanya ciptaan yang seharusnya tidak marah atas keputusan Tuhan. Bahkan ditawaran berikutnya sampai menuju angka 10, Abraham langsung merendahkan dirinya serendah mungkin, memohon kepada Tuhan. Abraham tidak marah-marah lagi dalam tawaran berikutnya.

Abraham menawar sampai 10 orang, karena fokusnya tetap kepada Lot sekeluarga dan pengaruh Lot. Logikanya, Lot, istri dan kedua anaknya sebagai orang benar seharusnya bisa memberi pengaruh yang baik terhadap lingkungan disekitarnya. Tetapi pada kenyataannya, keluarga Lot tidak menjadi pengaruh yang baik, bahkan tidak bisa memenangkan 6 jiwa di kota tersebut. Penyebabnya karena dosa adalah habitat mereka. Jadi dalam kasus ini, Abraham yang tawar-menawar untuk menyelamatkan Lot berserta keluarganya, padahal Tuhan tidak memberitahukan sejelas-jelasnya dari awal tentang keputusanNya.




Sudah selesai Bedah Kasusnya? Belum! Ada yang lebih menarik dari kasus ini!

Penulis sangat menyadari kasih Tuhan yang begitu luar biasa terhadap Abraham dalam kasus ini. Seperti yang sudah kita bahas diatas, bahwa tujuan Abraham bernegosiasi kepada Tuhan sebenarnya tertuju kepada Lot beserta keluarga, bukan kepada orang-orang fasik yang berada di Sodom dan Gomora. Sebenarnya Tuhan sudah menjawab keinginan Abraham, sebelum Abraham bernegosiasi atau sebelum Abraham meminta. Ada ayat yang penulis sengaja lewatkan sebagai poin utama dalam kasus ini! Mari kita belajar bersama-sama...




5. KASIH TUHAN
Kej 18:22  Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.

Siapa yang dimaksud dengan orang-orang di ayat ini ? dan apa tujuan mereka ke Sodom? Bila kita perhatikan dengan saksama dari atas, maka kita dapat mengetahuinya bahwa orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedua malaikat yang tadi ikut perbincangan dengan Tuhan dan Abraham. Kedua malaikat Tuhan ini ke kota Sodom tentunya tujuannya hanya satu, yaitu menyelamatkan Lot beserta keluarganya (Kej 19:1, 12-13). Jadi di ayat ini, Abraham belum berdoa, belum meminta dan belum bernegosiasi tetapi Tuhan sudah bertindak terlebih dahulu! Kesimpulan: sebelum Abraham berdoa, Tuhan sudah menjawab!



B. PELAJARAN

  1. Tuhan mengabulkan doa kita sebelum kita meminta (salah satu cara Tuhan), asal doa kita sesuai dengan kehendak Dia. Buktinya dalam kasus ini,  Tuhan sudah mengabulkan doa Abraham sebelum dia meminta.
  2. Fungsi doa adalah sebagai komunikasi untuk mencocokkan kehendak kita dengan kehendak Bapa. Bila cocok atau sejalan dengan kehendak Tuhan, pasti akan dikabulkan. Hanya tinggal menunggu waktu Tuhan saja. Tetapi Bila tidak cocok atau tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, maka Bapa di Sorga pasti tidak akan megabulkan doa kita. Bahkan Yesus sendiri pun ada doa yang tidak dikabulkan. Mar 14:36  Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Dalam ayat ini, doa keinginan Yesus hanya satu, yaitu supaya Dia tidak mengalami penderitaan yang luar biasa di kayu Salib. Cawan dalam ayat ini adalah lambang penderitaan Yesus. Tetapi yang luar biasa dan patut kita teladani adalah Yesus tidak berdoa atas kehendak pribadiNya (ego), tetapi atas kehendak Bapa di Sorga. Sehingga doa Yesus yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa, ditolak!
  3. Doa kita tidak merubah Tuhan, tetapi merubah kita! Mungkin kita berpikir dengan doa kita dapat merubah keputusan Tuhan. Logikanya, bila keputusan Tuhan dapat dirubah atas permintaan doa kita, maka siapa yang menjadi Tuhan? Jangan pernah menganggap Tuhan kita seperti pembantu yang harus menurut atas semua permintaan kita. Tetaplah berdoa! Dengan berdoa akan merubah karakter kita dengan perjalanan proses yang cukup panjang.
  4. Tidak ada yang tahu tentang keputusan atau rencana Tuhan, jadi keputusan Tuhan tidak dapat di negosiasikan. Bila kita tidak tahu rencana Tuhan secara keseluruhan, bagaimana kita dapat mengatakan keputusan Tuhan dapat berubah? Bahkan dalam suatu hal, Yesus sendiri saja tidak tahu kehendak Bapa. Mat 24:36  Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." Yesus dan malaikat saja ada yang tidak tahu rencana Bapa, apalagi kita ciptaanNya yang terbatas oleh ruang, waktu dan pengetahuan.





Kita berdoa dikabulkan atau tidak, Tuhan tetap Tuhan!
Kita kecewa atau tidak, Tuhan tetap mengasihi kita!
Kita setia atau tidak, Tuhan tetap setia kepada kita!
Dia tetap baik!

1 comment:

jaka gledek said...

Bagus sekali kajianya