Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Monday, September 27, 2010

the Lessons from Samaritan


Lukas 10:25-37

Tingkat keperdulian antar sesama manusia zaman sekarang, sangat minim sekali. Banyak orang yang egois dan selalu mementingkan kepentingan sendiri. Bahkan saya melihat ada banyak anak Tuhan, yang katanya mereka bergama, tetapi berbuat hal yang serupa.

Saya juga melihat kehidupan orang Kristen masih banyak yang seperti itu. Memang kita tinggal di kota yang sibuk, tetapi itu bukan alasan untuk kita tidak perduli dengan sesama. Bukankah kita diberi perintah untuk mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama seperti diri kita sendiri? (Luk.10:27).

Mari kita pelajari tentang seseorang dari Samaria, dan saya akan mencoba membawa anda untuk dapat mempelajari dari ayat per ayat dalam Lukas 10:25-37.

The Lessons
Ay.25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"  27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Yang dimaksud Ahli Taurat dari ayat tersebut adalah seorang pengajar dan penafsir PL, khususnya kelima kitab musa (Pentateukh). Ahli Taurat dapat dengan mudahnya untuk mengasihi sesama Ahli Taurat, tetapi untuk saling mengasihi kepada orang Samaria, adalah merupakan suatu beban bagi mereka. Karena dilihat dari latar belakangnya bahwa ternyata Ahli Taurat yang orang Yahudi juga sangat membenci orang Samaria. Antara lain, karena orang Samaria “kawin campur’. Jadi dari latar belakangnya, memang orang Yahudi dan orang Samaria saling bermusuhan.

Tetapi yang Tuhan inginkan adalah, supaya kita tetap mengasihi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Baik beda suku, beda agama, beda kebangsaan, beda ekonomi, beda derajat, dll. Inilah yang harus kita perhatikan terlebih dahulu.


30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

Dikatakan pada ayat diatas bahwa ada seorang Imam dan seorang Lewi. Imam adalah suatu jabatan dalam umat Israel yang penting peranannya. Tugasnya adalah mempersembahkan korban, mengadakan doa syafaat dan memberi berkat. Sedangkan orang Lewi adalah orang-orang lewi (anggota suku lewi) yang mempunyai tugas khusus dalam menyelenggarakan ibadah di Bait Suci.

Jadi  seseorang yang disebut Imam atau Lewi, adalah orang yang sudah mengerti isi Firman Tuhan. Dan memang ditunjuk Tuhan untuk menjadi pelayanNya. Ternyata seseorang yang sudah mengerti isi Firman Tuhan tidak membuat kita menjadi orang saleh.

Bahkan contoh dari seorang Imam dan Lewi diatas, meninggalkan orang Yahudi yang sedang sekarat. Mereka tidak perduli dengan keadaan orang Yahudi tersebut. Mereka bukan musuh orang Yahudi, justru mereka adalah teman, tetapi ternyata seseorang yang diharapkan untuk menolong, malah bertindak sebaliknya.

Ketidakperdulian kita terhadap sesama, sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan, apabila kondisinya seperti ayat diatas. Memang kita harus bertindak bijaksana pada zaman sekarang, memang kita harus hati-hati, karena banyaknya penipuan. Tetapi bukan berarti hal itu dijadikan alasan kita untuk tidak perduli terhadap sesama.

Kita harus tetap waspada dan bijaksana apabila ada seseorang yang kecelakaan dan kita berniat untuk menolongnya. Tetapi reflek kita sebagai anak Tuhan seharusnya bukan menghindari, tetapi reflek kita seharusnya mendekat dan memberikan bantuan, dengan bertindak bijaksana, yaitu tetap hati-hati dan siap-siap apabila kejadian itu adalah penipuan.

Tidak salah apabila kita berhati-hati dengan menyiapkan sebuah kayu, apabila terjadi sesuatu. Tetapi tetap reflek kita seharusnya adalah menolong bukan menghindari.


33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Mungkin dalam benak pikiran orang Yahudi yang menjadi korban tersebut, “Ah... seorang Imam dan Lewi saja tidak berbuat apa-apa, bahkan meninggalkan saya, apalagi orang Samaria yang memang sudah bermusuhan dengan orang Yahudi.”

Saya hanya menduga saja, tetapi kemungkinan mempunyai pikiran seperti diatas, bisa saja terjadi. Tetapi ternyata seseorang yang tidak diharapkan untuk menolong, malah datang untuk menolong.  Seseorang yang dianggap sebagia musuh, malah datang sebagai teman.

Mengasihi sesama berarti mengasihi semua orang tanpa batas, walau beda status ekonomi, beda ras, beda suku, beda agama. Inilah yang saya namakan Unlimited Charity. Tidak perduli mereka pernah menyakiti kita, tidak perduli mereka pernah membuat kita susah. Ingatlah! Perintah Tuhan tetap sama, yaitu “Kasihilah sesamamu!”, dan diayat itu tidak ada kata “kecuali”.

Dalam 1 Yoh.4:20, berkata : Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Berarti apabila kita tidak mengasihi yang walaupun dia adalah musuh kita, berarti dia adalah seorang pendusta. Bagaimana dengan anda?


34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Kita dapat belajar dari ayat ini, bahwa untuk menolong, jangan melihat siapa yang kita tolong. Kita harus segera mengambil tindakan langkah pertama, yaitu membalut luka-lukanya. Mungkin luka itu bisa luka fisik, atau luka batin. Kita beri langkah pertama yaitu, “mengobatinya”, tentunya menolong sesuai dengan kemampuan kita.

Dikatakan pada ayat diatas bahwa orang Samaria itu menaikkan orang Yahudi yang sedang sekarat itu ke keledai tunggangannya sendiri, berarti orang Samaria itu jalan kaki sambil menuntun keledai yang sekarang ditunggangi orang Yahudi tersebut. Orang Samaria ini menolong tidak setengah-setengah, dia menolong benar-benar dengan sepenuh hati, bahkan ia rela untuk jalan kaki.

Setelah itu, dia membawa orang Yahudi tersebut ke penginapan. Orang samaria ini tidak menghitung untung rugi dalam menolong sesama. Selama dia bisa melakukan kebaikan, dia akan tetap terus melakukannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikiannya.

Inilah yang Tuhan inginkan, supaya kita tetap terus menolong sampai tuntas. Apabila kita melakukan hal itu, apalagi terhadap musuh kita, maka Kasih Tuhan akan terpancar melalui perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.

Dikatakan juga bahwa orang Samaria itu meninggalkan sejumlah uang dan dia akan menggantinya apabila dibelanjakan lebih dari pada jumlah yang dia kasih. Tidak hanya setengah-setengah saja, orang Samaria ini menolong. Tetapi dia melanjutkan pertolongannya. Dia mungkin ada urusan pribadi, tetapi hal itu tidak membuatnya berhenti untuk menolong. Bahkan dia janji untuk datang kembali, dan menolongnya kembali.

Mungkin kita sudah menolong seseorang, tetapi kita harus tetap lanjutkan, karena pertolongan itu juga harus “To Be Continue”. Ya, inilah yang diinginkan Tuhan, kita harus mempunyai kasih yang terus berlanjut. Saya dapat artikan mengasihi tanpa titik. Karena sering juga kita sudah menolong orang sekali, tetapi setelah itu kita sudah pergi entah kemana, hilang tanpa jejak. Tuhan tidak ingin kita berbuat seperti itu. Mari kita terus mengasihi tanpa titik.


36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Ingatlah bahwa orang Kristen itu identik dengan Kasih, karena dalam kitab Yohanes, Allah yang orang Kristen sembah adalah Kasih. Sehingga kita juga bertanggung jawab untuk memancarkan kasih Allah tersebut kepada sesama kita.

Tuhan tidak ingin kita hanya sekedar tahu isi Firman Tuhan, tetapi Tuhan ingin kita merenungkan firman itu siang dan malam (Maz.1:2). Berarti kita juga harus melakukan isi firman Tuhan tersebut.

Dalam memberikan pertolongan harus sesuai dengan kemampuan kita, tidak usah menunggu kita menjadi kaya baru menyumbang. Tetapi kita bisa mulai dari apa yang kita punya dalam memberi pertolongan dengan cara menyisihkan uang kita.

Memberi belum tentu mengasihi, tetapi seseorang yang mengasihi, sudah pasti memberi, karena kasih identik dengan memberi. Mari kita tunjukan UNLIMITED CHARITY atau MENGASIHI TANPA TITIK terhadap sesama umat manusia, tanpa memandang suku, agama dan ras.

Kebahagiaan sejati adalah bukan pada saat kita memiliki, tetapi pada saat kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.

Seperti yang ay.37 katakan, “PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!”



Tuhan Yesus memberkati.

No comments: