Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Thursday, September 23, 2010

High Quality Single Part 2


5 Prinsip Sebelum Berpacaran



/Prinsip 1 : Indah pada waktunya
Seringkali kita melakukan kesalahan dengan mencabut sesuatu yang baik bukan pada waktu yang tepat untuk menikmatinya, tetapi hanya sekedar karena kita menginginkannya. Anak muda jaman sekarang lebih memilih menghabiskan masa sekolahnya dengan berpacaran, padahal seharusnya masa sekolah, bukanlah masa berpacaran, tetapi masa dimana kita bisa mengembangkan dan memaksimalkan seluruh potensi yang kita miliki. Tetapi karena trend masa ini, banyak anak muda yang lebih memilih untuk berpacaran di usia yang dini, padahal belum tentu ia mengerti tujuan pacaran itu sendiri.

Kebudayaan zaman sekarang mengajarkan, bahwa jika sesuatu itu baik, kita harus berusaha segera untuk menikmatinya. Itulah mengapa kita menggunakan microwave atau mengirim paket ekspres. Tujuan kita melakukan itu adalah supaya segala sesuatunya dapat kita nikmati dengan cepat, tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Mungkin kata-kata itu sering kita dengar “kalo bisa sekarang, kenapa harus kita nikmati nanti?”.

Ada ilustrasi yang sangat memberkati banyak orang, yaitu sebuah kisah tentang Marshmallow. Konon ada seorang ilmuwan dapat melihat masa depan dengan memperhatikan bagaimana anak berusia empat tahunan berinteraksi dengan marshmallow. Para peneliti mengundang anak-anak, satu demi satu, masuk ke dalam sebuah ruangan kosong dan memulai siksaan halus. “Kamu bisa memiliki marshmallow ini sekarang,” katanya. “tetapi jika kamu menunggu sementara saya mengurus suatu keperluan, kamu bisa mendapatkan dua marshmallow ketika saya kembali.” Dan kemudian ia pergi.

Beberapa anak langsung mengambil marshmallow itu ketika si peneliti keluar. Yang lain menunggu beberapa menit sebelum akhirnya menyerah. Tetapi yang lain berketetapan hati untuk menunggu. Mereka menutupi matanya, membaringkan kepala mereka, menyanyi, bermain atau bahkan jatuh tertidur. Dan akhirnya mereka mendapatkan upanya, yaitu dua marshmallow.

Ketika anak tersebut berusia SMP, sesuatu yang luar biasa terjadi. Sebuah survey terhadap orang tuda dan guru-guru yang ketika di usia empat tahun memiliki keuletan untuk menunggu marshmallow kedua pada umumnya bertumbuh menjadi remaja-remaja yang lebih mudah menyesuaikan diri, lebih popular, lebih berani, lebih percaya diri dan mandiri.

Sedangkan anak-anak yang cepat menyerah, menjadi anak yang kesepian, mudah frustasi, dan keras kepala. Mereka roboh di bawah tekanan dan tidak menyukai tantangan. Usaha kita untuk mendahului waktu Allah dapat merusak keindahan rencanaNya bagi kehidupan kita. (Pengkhotbah 3:1-8).

Segala sesuatu ada waktunya. Ada masa kita harus menimba ilmu, ada waktu kita harus memaksimalkan potensi kita, ada waktu dimana kita harus makan, ada waktu dimana kita harus liburan, ada waktu dimana kita harus menikmati dan juga ada waktu dimana kita akan berpacaran. Gunakanlah waktu sebaik mungkin pada waktu yang tepat. Kita perlu ingat bahwa sesuatu yang baik pada waktu yang tidak tepat adalah sesuatu yang tidak baik.

Prinsip 2 : Tujuan pacaran
Dari angket yang sama, penulis juga bertanya tentang tujuan pacaran. Pertanyaannya adalalah seperti ini “Untuk apa sih kita pacaran?”. Dari angket tersebut, penulis mendapatkan jawaban yang unik dan menarik. Antara lain sebagai berikut :
·         Sharing tentang kehidupan
·         Supaya mendapat perhatian
·         Supaya ada yang kasi support dalam hidup kita
·         Untuk cari pengalaman
·         Ada yang nganterin kemana-mana
·         Ada yang bayarin
·         Mengasihi dia
Bila asalan berpacaran hanya yang disebutkan dari angket diatas, sahabat dan keluarga pun juga dapat memberikan. Bahkan mungkin lebih baik dari pacar kita. Dan apabila memang jawabannya hanya sampai disitu saja, maka penulis sangat yakin bahwa orang tersebut belum pantas untuk menjalin hubungan romantis dengan lawan jenis. Karena tujuan pacaran tidak sedangkal itu.

Makna dari pacaran jauh lebih dalam dibanding dengan alasan diatas, karena pacaran adalah tahap dimana kita seharusnya lebih mengenal terhadap pasangan hidup kita dan semuanya itu untuk mempersiapkan diri ke bangku pelaminan, yang disebut dengan pernikahan. Apabila kita belum siap menghadapi pernikahan, seharusnya kita jangan egois memberikan cinta kita terhadap kebutuhan emosional dan kebutuhan fisik orang yang kita cinta.

Apabila dua orang yang sedang jatuh cinta tidak bisa membuat suatu komitmen sakral dalam pernikahan, maka mereka tidak perlu mengejar percintaan, alangkah lebih baik bila mereka memaksimalkan potensi mereka selama masih single. Karena apabila kita belum siap membuat komitmen, kita akan terjebak dalam kondisi “Dating Limbo”[1], artinya adalah kondisi stagnan, hubungan itu tidak menuju pernikahan tetapi juga tidak putus.

Selamanya orang yang menikmati kondisi ini, hanya akan merasakan kondisi Teman Tapi Mesra (TTM). Bila kita menikmati kondisi tersebut, akhirnya akan membuat sakit hati salah seorang pasangan. Kita harus punya target, kapan kita bisa berkomitmen untuk berpacaran dan kapan kita dapat berkomitmen untuk menikah. Jadi intinya adalah, bila kita belum siap untuk menikah, adalah baik bila kita tidak usah memutuskan untuk menjalin hubungan romantis yang disebut pacaran.

Prinsip 3 : Menjadi orang yang tepat
Sebelum kita mencari orang yang tepat, seharusnya kita menjadi orang yang tepat terlebih dahulu. Pola pikir kita sebagai anak muda, seringkali berusaha untuk mencari seseorang yang tepat bagi dirinya, mencari orang yang cantik, cakep, mempunyai badan yang menarik, pintar, seiman, dll. Tetapi sebenarnya apakah kita sudah menjadi orang yang tepat terlebih dahulu? Apakah kita sudah pantas untuk berpacaran? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab terlebih dahulu.

Jangan pernah terlalu sibuk memikirkan siapa yang kita inginkan, sehingga kita lupa menjadi diri kita sendiri. Kita lupa bahwa ternyata ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, kita lupa untuk menjadi Adam terlebih dahulu, yang memaksimalkan seluruh potensinya terlebih dahulu. Sebelum Adam memilih Hawa sebagai pasangan hidup, adam berusaha menjadi orang yang tepat terlebih dahulu. Inilah yang harus kita teladani.

Banyak yang dapat kita pelajari untuk menjadi orang yang tepat. Penulis mencoba membuat hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menjadi orang tepat. Antara lain adalah sebagai berikut :
  • Berlatih mengatur keuangan
  • Berlatih mengatur waktu
  • Berolahraga untuk mendapatkan kesehatan
  • Mengontrol nafsu birahi
  • Melakukan hal-hal praktis di rumah
Pria : mencari tahu tentang elektronik, otomotif, bangunan, listrik, dll
Wanita : belajar memasak, menjahit, mengurus adik, dll.
  • Pelayanan di Gereja
  • Berorganisasi di gereja, sekolah atau masyarakat
  • Banyak baca buku
  • Menjalin hubungan (Quality Time) dengan keluarga kecil dan keluarga besar
  • Mengikuti seminar LSD
  • Mengetahui perbedaan antara pria dan wanita
  • Menggali informasi dalam dunia maya
  • Mengikuti kegiatan yang sesuai dengan potensi kita
  • Bergaul kepada orang yang dapat mengembangkan potensi kita

Inilah hal yang dapat kita lakukan sebelum mencari orang yang tepat. Jangan sampai kita meninggal dan melihat kita terkubur bersama potensi kita, karena kita tidak pernah mengembangkan dan memaksimalkannya. Myles Munroe pernah berkata, “Matilah dalam keadaan kosong, matilah dengan dengan puas.[2]

Prinsip 4 : Tanggung jawab pria dan wanita
Sebagai seorang pria dan wanita kita harus mengerti tanggung jawab pria dan wanita sebelum menjalin hubungan romantis.[3] Ada hal yang harus kita perhatikan sebelum kita berpacaran, karena apabila tidak, hal ini akan menjerumuskan kita ke dalam lubang dosa.

Tanggung jawab wanita
Kaum hawa harus mengingat akan hal yang satu ini, sebenarnya kaum adam paling bergumul dengan matanya. Memang kaum Adam juga harus dingatkan, tetapi ini adalah tanggung jawab wanita. Karena seringkali yang ada, para pria jatuh juga karena wanitanya memang tidak pernah berpakaian sepantasnya, dan dapat menimbulkan nafsu birahi. Pria harus mengendalikan diri, wanita harus menolong dengan cara berpakaian yang sewajarnya.

Kaum adam paling mudah untuk berpikiran cabul, dalam tenggang waktu yang sangat singkat, yaitu 4 menit. Sepasang ahli psikologi yang beranama Allan & Barbara pease mengatakan bahwa Cara memuaskan seorang wanita adalah dengan: Belaian, pujian, kemanjaan, senangkan hatinya, aroma, pijatan, memperbaiki sesuatu, empati, nyanyian, sanjungan, dukungan, makanan, ketengan, giuran, humor, ketentraman, rangsangan, bujukan, dekapan, dll. Dan hanya satu cara memuaskan seorang pria adalah dengan : Dekati dirinya tanpa busana.

Yang menggairahkan wanita dan pria memang berbeda. Yang menggairahkan wanita adalah romansa, komitmen, komunikasi, keintiman, sentuhan tanpa seks, sedangkan yang menggairahkan pria adalah pornografi, kebugilan wanita, variasi seksual, pakaian dalam wanita, kebersediaan wanita. Jadi pada dasarnya, wanita dan pria memang diciptakan dengan keunikan masing-masing dan mempunyai kelebihan masing-masing.

Tanggung jawab pria
Bila kaum Hawa sudah mengetahui tanggung jawabnya, maka kaum Adam pun sudah ada tanggung jawabnya sendiri. Bagi para kaum Adam, yang patut diperhatikan adalah, ingatlah bahwa perlakukanlah seorang wanita sebagai perempuanmu. Jangan dijadikan obyek seksual ataupun  jangan memainkan perasaan wanita, dengan memberikan harapan yang palsu.

Pria suka sekali memainkan perasaan wanita, lewat karisma yang dimilikinya. Apabila sudah puas dengan satu wanita, dengan mudahnya meninggalkan wanita tersebut untuk mendekati wanita lain. Dan seringkali yang ada adalah, kaum hawa selalu menjadi obyek penderita korban hawa nafsu lelaki.

Yang harus diingat bagi kaum adam adalah bila tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk berpacaran yang menuju pernikahan, kita tidak layak memberikan perhatian romantis kepada lawan jenis. Apabila memang tidak menyukai, katakan dengan tegas, jangan memberikan harapan semu.

Prinsip 5 : Pilihan di tangan kita
Seringkali kita berpikir bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Untuk yang satu ini, penulis sangat tidak setuju. Jodoh bukan di tangan Tuhan, tetapi jodoh ada di tangan kita sendiri, kitalah yang menentukan pasangan hidup kita. Segala kekurangan dan kelebihan tentang pasangan hidup kita, semua adalah pilihan kita.

Dalam Kejadian 2 : 22 dikatakan bahwa “lalu dibawaNya kepada manusia itu”. Kata membawa dalam bahasa Ibrani asli diterjemahkan dengan kata “memamerkan”.[4] Jadi pada saat itu, Tuhan hanya membawa manusia yang baru diciptakannya itu, yang bernama Hawa kedepan mata si adam. Tidak ada kata bahwa Adam harus menikahi atau mengawini Hawa, tetapi di Alkitab jelas tertulis, Tuhan hanya membawa atau memamerkan Hawa kepada Adam.

Kejadian 2 : 23 “Lalu berkatalah manusia itu : inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Maksudnya adalah, pada saat Adam pertama kali melihat Hawa, Adamlah yang menentukan pasangannya sendiri. Adamlah yang tertarik pertama kali. Karena melihat Hawa yang begitu menarik perhatian, maka Adam langsung berseru “Inilah dia”

Begitu pula dengan hidup ini. kita dapat memilih pasangan kita sesuka hati kita. Tetapi tetap harus dalam jalur Tuhan. Dan pada saat kita sudah menentukan siapa pasangan kita, maka kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri, beserta dengan akibat-akibatnya. Sebagai anak Tuhan, sudah sepantasnya kita mencari anak Tuhan. Dan ingatlah kita bukan mencari kecocokan, tetapi mencari partner hidup atau pasangan hidup.




--==(00oo00)==--


[1]  Myles Munroe, Waitng and Dating
[2] Dr, Myles Munroe, Maximizing Your Potential
[3]  Joshua Harris, I Kissed Dating Goodbye, hal 92-94
[4]  Myles Munroe, Waiting and Dating, hal 63

9 comments:

Noelzk said...

Mantabs artikelnya, yang seperti ini harus di sosialisasikan ke anak2x Tuhan nih..., karena bahwasannya memiliki karakter kedewasaan dalam diri sendiri sungguh sangat perlu sebelum memulai sesuatu hubungan pacaran(karena berpacaran itu bukan mainan).
Karena aku sendiri dulunya pernah merasakan ber"pacaran" yg tdk benar, dan setelah mejalani hidup yang baru, sungguh luar biasa, ternyata Tuhan itu telah memberikan potensi2x yg luar biasa dalam diri kita...singkatnya :)..., menjadi single ga perlu minder, lebih baik mnjd single dengan karakter yg dewasa di mata Tuhan, dan tentunya tdk lepas dr ora et labora...jng lupa juga, baca-bacaan yg membangun karakter kita seperti artikel ini....^_^...terakhir, semuanya akan indah pada waktuNYA. amin

PaO said...

Thx Noelzk, thx uda luangkan waktu untuk baca n uda mau kasih komentar. Jbu :)

Qum said...

d^^b mantaphhh uiiii^^

Virsa said...

~Nice Blog Lus... :)I'm totally agree with you that He made everything beautiful in its time [Ecc 3:11]... Keep impacting and inspiring by this blog! Jbu.... ^^

PaO said...

Thx kumala n virsa :) Jbu

RacheL said...

Amien toto-kuwww! Great article..keep writing and serving God!Bless you more in wisdom and mercy!

PaO said...

hehehhehe xie xie o'e :)

Harvey said...

Blognya Mantab (y) , harus bagi" link ke orang" lain ni koo^^

PaO said...

iya aku bagi2 lagi deh yang ini link-nya :) thx harvey. JBU