Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Friday, September 4, 2015

Belajar dari Kitab Hagai: Rumah Tuhan Vs Rumah Pribadi - Hagai 1:2-4; 9



Hagai adalah seorang nabi yang diutus Tuhan kepada orang Yahudi sesudah mereka kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Hagai tidak kenal lelah untuk mendorong orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Sudah hampir sekitar 20 tahun umat Tuhan kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel. Namun mereka masih menunda, dan belum mau membangun kembali Bait Suci. Peran Hagai dalam hal ini sangat penting, karena ia harus memperingatkan orang-orang Yahudi, bahwa alasan mereka untuk tidak langsung membangun Bait Suci telah menimbulkan masa-masa sulit yang tidak akan berakhir sampai mereka mulai bekerja.

Hagai memberi pesan terhadap orang-orang Yahudi untuk mengalahkan keegoisan dalam diri, karena kenyataannya orang-orang Yahudi ini ternyata lebih mementingkan kebutuhan pribadi mereka sendiri. Buktinya mereka lebih memilih memapani rumahnya sendiri terlebih dahulu. Sementara, Rumah Tuhan itu dibiarkan menjadi reruntuhan, seakan-akan mereka tidak peduli dengan Rumah Tuhan. 

Hagai menegaskan, bahwa mereka ini telah sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga melupakan suatu hal yang sangat penting, yaitu membangun kembali Bait Suci. Untuk itu, Hagai berusaha menasihati dan mendorong orang-orang Yahudi untuk lebih mementingkan Rumah Tuhan daripada rumah pribadi. 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan membangun rumah sendiri, hanya saja jika mendahulukan kepentingan pribadi dan menomorduakan kepentingan Tuhan, berarti kita telah menomorduakan Tuhan di dalam kehidupan kita. Jelas sekali hal ini adalah salah satu bentuk atau wujud keegoisan penduduk Yahudi saat itu. Mereka lupa, siapa sebenarnya yang harus didahulukan, karena mereka telah dikuasai oleh keegoisan.

Jika kira renungkan hal ini, kita mendapatkan suatu pelajaran yang penting. Membangun kembali Bait Suci bukan sekadar membangun suatu bangunan fisik semata. Lebih daripada itu, membangun Bait Suci dalam kisah di atas bisa diartikan memprioritaskan kehendak Tuhan, karena memang Tuhan tidak ingin dinomorduakan! Itulah sebabnya dalam sepuluh perintah Tuhan juga dikatakan, bahwa jangan ada Tuhan lain, selain Bapa di Surga. Dengan mendahulukan rumah pribadi dibandingkan dengan Rumah Tuhan, berarti kita sudah membuat Tuhan yang lain, yaitu keinginan pribadi.

Disadari atau tidak, kerap kali keegoisan atau keinginan pribadi telah menjadi Tuhan dalam kehidupan kita. Alhasil, kita melupakan Tuhan di dalam kehidupan ini. Hari ini kita belajar untuk lebih mementingkan kepentingan Tuhan dari apapun juga. Kita harus meluluhlantakkan keegoisan dalam diri, supaya kita semakin sadar betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan dan betapa perlunya kita bersandar penuh kepadaNya.


Damainya Surga, dan berkat yang melimpah akan nyata 
saat kita membunuh keegoisan dalam diri!

1 comment:

Wahyu Diono said...

Gak se sarkasme gituuuu kaleeee....meluluhlantakkan kepentingan pribadi ?????...karena pribadi kita kan juga merupakan bait Allah. ...jadi....makan dulu yang cukup,.....baruuu bangun gereja......masak bangun gereja disaat perut keroncongan ???? yang ada malahan bangunannya miring2,.....ambruk dehhhh ...hehehehehe.....