Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Monday, September 7, 2015

Belajar dari Kitab Hagai 3: Obey & Action - Hagai 1:12-14



Kata "mendengarkan" dalam Hag. 1:12 dalam bahasa Inggris versi King James Version ditulis obeyed yang artinya mematuhi. Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani ditulis shâma‛ yang secara harfiah artinya mendengarkan dengan cerdas. Kata ini juga biasa digunakan untuk menerangkan tentang perhatian dan ketaatan seseorang. Jadi tidak sekadar hanya mendengar, namun juga memerhatikan dengan saksama. Berarti Zerubabel, Yosua, dan orang-orang Yahudi menaati perintah Tuhan melalui Hagai. Buah ketekunan Hagai dalam menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang Yahudi sudah ia dapat nikmati hasilnya saat itu. Alhasil, mereka tidak hanya menaati perintah Tuhan, tetapi mereka juga menjadi takut akan Tuhan. Ketaatan mereka disertai dengan tindakan, buktinya dalam Hag. 1:14 ditulis bahwa bangsa Yahudi mulai membangun Rumah Tuhan, berarti ada tindakan! 

Mendengar perintah memang mudah, namun menaati perintah itu yang sulit dilakukan. Sebagai orang percaya, beribadah rutin setiap minggu ke gereja bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan. Untuk mendengar setiap firman Tuhan yang disampaikan pun bukanlah suatu hal yang sulit. Tetapi melakukan setiap firman Tuhan yang disampaikan butuh usaha yang sangat keras. Karena saat kita melakukan firman Tuhan itu berarti kita sedang mengaplikasikan ke dalam kehidupan kita sendiri. 

Misalkan kita sudah mendengar firman Tuhan tentang mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Saat mendengar firman Tuhan itu, paling hanya membutuhkan waktu 45 menit atau 1 jam saja. Namun saat mengaplikasikan ke dalam kehidupan kita sendiri, membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan seharusnya kita melakukan hal tersebut sampai akhir kehidupan kita di bumi ini. 

Yesus pernah memberi perumpamaan tentang hal ini dalam Matius 21:28-31. Ada seorang ayah yang memiliki dua anak laki-laki. Ia pergi kepada yang sulung dan memberi perintah untuk bekerja dalam kebun anggur. Anak ini hanya mendengar saja dan berkata " ... baik, bapa ... ", tetapi anak ini tidak melakukan perintah tersebut. Anak yang kedua diberi perintah yang sama, lalu anak itu tidak mau, kemudian ia menyesal dan akhirnya ia melakukan perintah ayahnya. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa yang melakukan kehendak ayahnya adalah anak yang kedua. Jadi ketaatan itu dilihat dari tindakannya, jika ia tidak melakukannya berarti ia hanya mendengar. 

Mungkin saat ini posisi kita sama seperti orang Yahudi dan anak yang kedua dalam perumpamaan Yesus, yaitu sama-sama tidak mau melakukan perintah Tuhan. Namun jika kita masih diberi kesempatan untuk hidup sampai hari ini, berarti pintu pertobatan untuk melakukan kehendak Tuhan masih terbuka lebar. Untuk itu kita harus belajar menaati setiap perintah firman Tuhan yang disampaikan kepada kita.


Ketaatan bukanlah ketaatan yang sesungguhnya 
jika tidak disertai dengan tindakan.

No comments: