Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Saturday, September 5, 2015

Belajar dari Kitab Hagai 2: Pundi Yang Berlubang - Hagai 1:6-8



Bekerja keras, namun hasilnya sedikit. Tampaknya peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian; yang artinya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, tidak dialami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Logikanya orang yang bekerja keras, penghasilannya pun harus setimpal dengan kerja kerasnya, tetapi Hagai berkata bahwa orang-orang Yahudi ini membawa pulang dengan hasil sedikit. Jika demikian, berarti ada yang salah dengan orang-orang Yahudi saat itu. Mereka bekerja tetapi hasilnya seperti ditaruh dalam pundi yang berlubang, sehingga sekeras apapun usahanya, mereka tetap berkekurangan dan tidak pernah cukup. Hagai memperingati orang-orang Yahudi untuk memerhatikan keadaan mereka, karena keadaan mereka terbilang ironis. 

Pundi yang berlubang disebabkan oleh keegoisan mereka yang lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri dibandingkan dengan kepentingan Tuhan, yaitu membangun kembali Bait Suci. Untuk itu Hagai berusaha mendorong mereka cepat-cepat membangun Bait Suci tersebut, supaya Tuhan berkenan kepada mereka dan menyatakan kemuliaanNya kepada mereka. 

Dalam kehidupan ini, kita sering berlaku seperti orang-orang Yahudi saat itu, lebih fokus terhadap kepentingan diri, sehingga tanpa disadari kepentingan diri itu telah merobek pundi-pundi penghasilan kita sendiri. Akibat ini disebabkan oleh perbuatan kita sendiri, tetapi kerap kali kita menyalahkan orang lain, bahkan dalam tahap yang lebih parah ada orang-orang percaya yang menyalahkan Tuhan atas kekurangan finansial yang dialaminya.
Untuk itu kita perlu menambal pundi yang berlubang, supaya kita dapat menikmati hasil kerja keras kita sendiri. Paling tidak ada dua tahap untuk menambal pundi yang berlubang itu, yaitu mengevaluasi diri, kemudian mengakui kesalahan di hadapan Tuhan.

Mengevaluasi diri berarti memberikan penilaian sejujur-jujurnya terhadap diri sendiri. Untuk itu kita perlu mengingat kembali hal-hal yang berkaitan dengan masalah itu, karena akibat kekurangan finansial bisa disebabkan oleh banyak hal. Penyebab pertama bisa saja karena kita malas bekerja, penyebab kedua bisa saja karena tidak memberikan kinerja yang terbaik, penyebab ketiga mungkin saja karena Tuhan tidak berkenan terhadap pekerjaan kita, karena kita terlalu fokus terhadap kepentingan pribadi dibanding dengan kepentingan Sang Pemberi berkat itu sendiri. 

Jika memang masalahnya adalah penyebab ketiga, kita perlu melakukan tahap berikutnya, yaitu mengakui kesalahan tersebut di hadapan Tuhan. Dibutuhkan hati yang tulus untuk mau mengakui atas kesalahan yang pernah diperbuat. Jika dengan hati tulus kita mau mengakui kesalahan di hadapan Tuhan, serta tetap fokus kepada Tuhan Sang Pemberi berkat, niscaya pundi-pundi penghasilan kita akan pulih dan penuh kembali.    



Salah satu kebodohan orang percaya adalah 
menyalahkan orang lain di saat pundi pribadi berlubang.

1 comment:

Wahyu Diono said...

Mantappp euyyy......setuju sekaleeee.....