Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Friday, November 1, 2013

Membuka Payung Sebelum Hujan - Matius 6:25-34

Ateis adalah orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, sedangkan ateis praktis adalah orang yang sekalipun percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi hidup seakan-akan Tuhan tidak ada. Salah satu ciri orang ateis praktis adalah orang yang khawatir terus-menerus akan hidup dan masa depannya. Mungkin, dia adalah orang percaya yang rajin ke gereja, tetapi dia khawatir dengan hal-hal yang bahkan belum tentu atau mungkin tidak pernah terjadi. Ateis praktis dapat diumpamakan seperti orang yang membuka payung sebelum hujan turun.

Orang yang membuka payung sebelum hujan adalah orang yang khawatir akan adanya hujan tetapi hujan belum turun. Lalu apa fungsinya bila payung tersebut dibuka sebelum hujan? Seharusnya cukup dengan menyediakan payung saja, tidak perlu dibuka, seperti peribahasa berkata "sedia payung sebelum hujan". Dapat kita artikan, kekhawatiran ada dua macam: Pertama, khawatir positif, yaitu seperti orang yang sedia payung sebelum hujan. Kedua, khawatir negatif, yaitu seperti orang yang membuka payung sebelum hujan. Jadi persamaan antara orang yang membuka payung sebelum hujan dengan ateis praktis adalah mereka sama-sama khawatir akan suatu hal yang belum terjadi atau tidak akan pernah terjadi.

Seorang rohaniwan Jerman, ahli teologia Kristen, pendiri Gereja Lutheran dan tokoh reformasi gereja terkemuka yang bernama Martin Luther adalah seseorang yang dapat dikatakan tukang khawatir dan sering menderita periode panjang depresi. Pada suatu pagi ia bangun dan menemukan istrinya berjalan keliling rumah mengenakan pakaian berkabung hitam. Tirai dipasang dan lilin dinyalakan seolah-olah keluarga sedang berkabung. Karena gelisah melihat hal itu, ia bertanya, "Siapa yang meninggal?" Istrinya berbalik kepadanya dan berkata, "Tuhan yang meninggal!" Ia berkata, "Jangan bercanda! Tuhan tidak meninggal!" Istrinya kemudian menjawab perkataannya, "Oh, tidak? Lalu mengapa kau bertingkah seperti itu sejak minggu lalu?"

Dari zaman Yesus, sampai sekarang, kekhawatiran selalu menjadi masalah. Buktinya  salah satu khotbah di bukit adalah tentang hal kekhawatiran. Kita seharusnya belajar dari khotbah Yesus tentang hal kekhawatiran. Memang hidup dan tubuh tidak akan bertahan tanpa makanan dan pakaian, tetapi Yesus berkata bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian. Kita bisa hidup dan diberikan tubuh, merupakan salah satu anugerah yang besar dari Tuhan Yesus Kristus. Jadi, apabila Tuhan sudah memberikan suatu hal besar kepada kita, yaitu hidup dan tubuh, maka Tuhan pasti akan memberikan hal kecil, yaitu mencukupi seluruh kebutuhan hidup kita, baik sandang, pangan ataupun papan, sehingga masa depan kita terjamin di dalam tanganNya. Oleh sebab itu, yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja, sehingga Tuhan dapat memberkati kita. 


Orang yang selalu khawatir akan hidupnya, 
sama dengan orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.




_______________________

Sumber:
1. Wisdom of God.
2. Renungan Harian Manna Sorgawi, Kamis, 22 Agustus 2013.

2 comments:

Antonius Anton said...

Bagus nihh

Anonymous said...

awesome, God Bless you all.

http://www.targetedwebtraffic.com/