Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Friday, November 30, 2012

Rahasia 4 Jenis Kasih (storge, eros, phileo dan agape)


Kita sudah sering dengar mengenai 4 jenis kasih dalam bahasa Yunani. Artikel kali ini akan membahas tentang rahasia dari empat kasih dari bahasa Yunani yang seringkali menjadi pertanyaan, yaitu adalah storge, eros, phileo dan agape. Penulis tidak akan bertele-tele, tetapi langsung kepada point-nya saja. Artikel ini lebih membahas pengertian tentang kasih tersebut dari berbagai macam bahasa, apakah ke-empat kasih tersebut ada dalam Alkitab? Apa yang diajarkan Alkitab tentang kasih? Apakah kasih Agape hanya dimiliki oleh Allah? Bagaimana urutan yang benar dari yang terkecil sampai yang terbesar dari ke-empat jenis kasih dalam bahasa Yunani? Dan kenapa Tuhan memberikan kasih Agape kepada kita? Mari kita simak.

A. BAHASA.
A.1. Dalam Bahasa Yunani.
Dalam bahasa Yunani ada empat kata yang artinya sama-sama mengasihi, tetapi dalam lingkup yang berbeda.
  1. Kata benda στοργη - STORGÊ dengan kata kerjanya STERGEIN berarti kasih mesra dari orang tua kepada anaknya dan begitu juga sebaliknya.
  2. Kata EROS dari kata Yunani, yang kita terjemahkan EROS, artinya kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi.
  3. Kata benda φιλεω - PHILEÔ dengan kata kerjanya φιλειν - PHILEIN berarti kasih sayang yang sejati antar sahabat dekat. Biasanya kasih ini tidak mempunyai hubungan darah. Kasih ini lebih kepada persahabatan.
  4. Kata benda αγαπαω - AGAPAÔ dengan kata kerjanya αγαπαν - AGAPAN, yang kita terjemahkan AGAPE, artinya kasih yang tanpa perhitungan dan tanpa peduli orang macam apa yang dikasihinya. Seringkali disebut dengan kasih yang walaupun.

A.2. Dalam Bahasa Inggris.
Dalam bahasa Inggris mempunyai kata kerja Love (kasih, cinta, suka) dan Like (suka). Jadi ada perbedaan antara Love dan Like.

A.3. Dalam Bahasa Perancis.
Bahasa Perancis hanya menggunakan kata aimer untuk kata Love dan Like.

A.4. Dalam Bahasa Indonesia.
Kasih : Perasaan sayang (cinta, suka kpd); beri, memberi. Jadi dalam bahasa Indonesia, kasih itu identik dengan memberi. Orang yang mengasihi pasti memberi, namun orang yang memberi belum tentu mengasihi.

B. PERTANYAAN TENTANG 4 JENIS KASIH.
B.1. Apakah kasih storge, eros, phileo, agape ada dalam Alkitab?
Penulis mencari hal ini dalam software e-sword, bagian Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries. Berikut ini adalah hasil yang didapatkan, apakah ke-empat kasih tersebut ada dalam Alkitab.

G25   ἀγαπάω   agapaō
Total KJV Occurrences: 142
love, 74. Mat_5:43-44 (2), Mat_5:46 (2), Mat_6:24, Mat_19:19, Mat_22:37, Mat_22:39, Mar_12:30-31 (2), Mar_12:33 (2), Luk_6:27, Luk_6:32 (4), Luk_6:35, Luk_7:42, Luk_10:27, Luk_11:43, Luk_16:13, Joh_8:42, Joh_10:17, Joh_13:34 (2), Joh_14:15, Joh_14:21, Joh_14:23 (2), Joh_14:31, Joh_15:17, Rom_8:28, Rom_13:8-9 (2), 1Co_2:9, 1Co_8:3, 2Co_11:11, 2Co_12:15, Gal_5:14, Eph_5:25, Eph_5:28, Eph_5:33, Eph_6:24, Col_3:19, 1Th_1:3, 1Th_3:12, 1Th_4:9, 2Ti_4:8, Jam_1:12, Jam_2:5, Jam_2:8, 1Pe_1:8, 1Pe_1:22, 1Pe_2:17, 1Pe_3:10, 1Jo_2:15 (2), 1Jo_3:11, 1Jo_3:14, 1Jo_3:18, 1Jo_3:23, 1Jo_4:7, 1Jo_4:11-12 (2), 1Jo_4:19-21 (4), 1Jo_5:2 (2), 2Jo_1:1, 2Jo_1:5, 3Jo_1:1
loved, 38. Mar_10:21, Luk_7:47, Joh_3:16, Joh_3:19, Joh_11:5, Joh_12:43, Joh_13:1 (2), Joh_13:23, Joh_13:34, Joh_14:21, Joh_14:28, Joh_15:9 (2), Joh_15:12, Joh_17:23 (2), Joh_19:26 (2), Joh_21:7, Joh_21:20, Rom_8:37, Rom_9:13, 2Co_12:15, Gal_2:20, Eph_2:4, Eph_5:25, 2Th_2:16, 2Ti_4:10, Heb_1:9, 2Pe_2:15, 1Jo_4:10-11 (3), 1Jo_4:19, Rev_1:5, Rev_3:9, Rev_12:11
loveth, 20. Luk_7:5, Luk_7:47, Joh_3:35, Joh_14:21 (2), Joh_14:24, Rom_13:8, 2Co_9:7, Eph_5:28 (2), Heb_12:6, 1Jo_3:10 (2), 1Jo_3:14, 1Jo_4:7-8 (2), 1Jo_4:20-21 (2), 1Jo_5:1 (2)
beloved, 7. Rom_9:25 (2), Eph_1:6, Col_3:12, 1Th_1:4, 2Th_2:13, Rev_20:9
lovest, 2. Joh_21:15-16 (2)
lovedst, 1. Joh_17:24

G26      ἀγάπη agapē
Total KJV Occurrences: 116
love, 84. Mat_24:12, Joh_5:42 (2), Joh_13:35, Joh_15:9-10 (3), Joh_15:12-13 (2), Joh_17:26, Rom_5:5, Rom_5:8, Rom_8:35, Rom_8:39, Rom_13:9-10 (3), Rom_15:30, 1Co_4:21, 1Co_16:24, 2Co_2:4, 2Co_2:8, 2Co_5:14, 2Co_8:6-8 (3), 2Co_8:24, 2Co_13:11, 2Co_13:14, Gal_5:6, Gal_5:13, Gal_5:22, Eph_1:4, Eph_1:15, Eph_2:4, Eph_3:17, Eph_3:19, Eph_4:2, Eph_4:15-16 (2), Eph_5:2, Eph_6:23, Phi_1:9, Phi_1:17, Phi_2:1-2 (2), Col_1:4, Col_1:8, Col_2:2, 1Th_5:8, 1Th_5:13, 2Th_2:10, 2Th_3:5, 1Ti_1:14, 1Ti_6:11, 2Ti_1:7, 2Ti_1:13, Phm_1:5, Phm_1:7, Heb_6:10, Heb_10:24, 1Jo_2:5, 1Jo_2:15, 1Jo_3:1, 1Jo_3:16-17 (2), 1Jo_4:7-10 (4), 1Jo_4:12, 1Jo_4:16-18 (7), 1Jo_5:3, 2Jo_1:3, 2Jo_1:6, Jud_1:2, Jud_1:21, Rev_2:4
charity, 28. 1Co_13:1-4 (7), 1Co_13:8, 1Co_13:13 (2), 1Co_14:1, 1Co_16:14, Col_3:14, 1Th_3:6, 2Th_1:3, 1Ti_1:5, 1Ti_2:15, 1Ti_4:12, 2Ti_2:22, 2Ti_3:10, Tit_2:2, 1Pe_4:8 (2), 1Pe_5:14, 2Pe_1:7, 3Jo_1:6, Jud_1:12, Rev_2:19
charitably, 1. Rom_14:15
dear, 1. Col_1:13
love’s, 1. Phm_1:9
loved, 1. Eph_5:2

G5368  Φιλέω phileō
Total KJV Occurrences: 26
love, 10. Mat_23:5-6 (2), Luk_20:46, Joh_15:19, Joh_21:15-17 (3), 1Co_16:22, Tit_3:15, Rev_3:19
loveth, 6. Mat_10:37 (2), Joh_5:20, Joh_12:25, Joh_16:27, Rev_22:15
kiss, 3. Mat_26:48, Mar_14:44, Luk_22:47
loved, 3. Joh_11:36, Joh_16:27, Joh_20:2
lovest, 3. Joh_11:2-3 (2), Joh_21:17 (2)
kindness, 1. Act_28:2

Dengan melihat hasil diatas, sangat jelas bahwa kata kasih dalam bahasa Yunani, dari empat yang sering kita dengar, hanya dua kata saja yang dicatat dalam Alkitab, yakni: Agape dan Phileo. Penulis pernah membaca suatu artikel, ada kemungkinan storge juga pernah ditulis, tetapi kata tersebut gabungan dari kata Phileo dan Storge. Tetapi yang lebih pasti, kata tersebut penulis tidak mendapatkannya dalam Alkitab Bahasa Yunani versi Software e-sword.

B.2 Dalam Alkitab kita diajarkan, ada tiga obyek "mengasihi" yaitu :
Luk 10:27  Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Jadi ada tiga obyek mengasihi yang Firman Tuhan ajarkan, yaitu:
  1. Mengasihi Tuhan AllahHal ini perintah yang pertama dan yang terutama, yang harus kita lakukan. Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita, untuk itulah kita harus mengasihi Allah.
  2. Mengasihi sesama manusiaMengasihi sesama yang baik kepada kita mungkin adalah hal yang mudah kita lakukan, tetapi bagaimana mengasihi sesama yang jahat kepada kita? Tentu hal ini sangat sulit, tetapi Firman Tuhan dengan tegas mengatakan, kita harus mengasihi.
  3. Mengasihi diri-sendiri. Mengasihi diri sendiri sering terlupakan, karena memang tidak secara langsung Alkitab mencatatnya. Mengasihi diri sendiri bukan berarti mementingkan kepentingan diri sendiri, tetapi lebih kepada penerimaan diri, Karena masih banyak orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri dari fisik, latar belakang keluarga, kemampuan, dll.  

B.3 Apakah AGAPE/AGAPAO hanya dimiliki oleh Allah?
Mari kita lihat dalam Matius 5:44.
ITB : Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

KJV : But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you;

GNT : ᾿Εγὼ δὲ λέγω ὑμῖν, ἀγαπᾶτε τοὺς ἐχθροὺς ὑμῶν, εὐλογεῖτε τούς καταρωμένους ὑμᾶς, καλῶς ποιεῖτε τοῖς μισοῦσιν ὑμᾶς καὶ προσεύχεσθε ὑπὲρ τῶν ἐπηρεαζόντων ὑμᾶς καὶ διωκόντων ὑμᾶς,

Dalam ayat ini, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada kita untuk mengasihi musuh kita dengan kasih agapate yang merupakan akar kata dari AGAPE/AGAPAO. Apabila Tuhan memberikan perintah seperti itu, seharusnya kita sebagai manusia sanggup memberikan kasih agape kepada sesama kita, dalam ayat ini secara khusus, kepada musuh kita. Berarti manusia mampu memberikan kasih agape terhadap sesama, bahkan kepada musuh kita.

B.4 Apakah Allah selalu memakai kasih Agape?
Mari kita lihat dalam 1 Korintus 6:22.
ITB: Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!

KJV: If any man love not the Lord Jesus Christ, let him be Anathema Maranatha.

GNT: ε τις οὐ φιλεῖ τὸν Κύριον ᾿Ιησοῦν Χριστόν, τω ἀνάθεμα. Μαράν ἀθά.

Ayat ini mengajarkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan kasih phileō. Berarti Tuhan juga memberi perintah supaya kita mengasihi Dia sebagai sahabat dekat, karena Allah kita selain Allah yang Trasenden (yang jauh dan tidak bisa dijangkau), Allah juga Allah yang Imanen (Allah yang dekat dengan kita), Jadi Allah tidak selalu memakai kasih agape. Bahkan dalam ayat ini dengan jelas bahwa kita dituntut untuk mengasihi Allah kita dengan kasih sebagai seorang sahabat (phileo).

B.5 Bagaimana urutan yang benar dari kasih yang terkecil sampai yang terbesar?
Pertanyaan ini sering dengan mudah dijawab, dan biasanya ada beberapa orang yang mengatakan eros diposisikan paling rendah dibandingkan dengan yang lain, ada juga yang mengatakan storge yang lebih awal dan agape selalu paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan yang lain. Tetapi apakah benar seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kembali pengertian dari masing-masing empat kata kasih tersebut dalam bahasa Yunani di atas. Penulis akan mencatatnya kembali dibawah ini untuk memudahkan pembaca.

STORGÊ berarti kasih mesra dari orang tua kepada anaknya dan sebaliknya.
EROS artinya kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi.
PHILEÔ berarti kasih sayang yang sejati antar sahabat dekat.
AGAPAÔ/AGAPE, artinya kasih yang tanpa perhitungan dan tanpa peduli orang macam apa yang dikasihinya.

Apabila kita melihat pengertian tentang 4 kasih seperti diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada urutan terbesar dan terkecil, hanya saja 4 kasih tersebut saling keterkaitan satu dengan yang lainnya.

Contoh pertama. Kasih tanpa perhitungan (agape) bisa dimiliki kasih orang tua kepada anaknya, dan berapa banyak contoh orang tua yang mau berkorban untuk anaknya, tentunya dalam hal ini adalah orang tua yang benar. Orang tua penulis-pun melakukan hal yang sama, yaitu selalu mengorbankan kepentingan dirinya sendiri hanya untuk anaknya. Jadi orang tua–pun yang juga manusia, mampu memberikan kasih agape.

Contoh kedua. Kasih suami kepada istri, sepasang suami istri-pun juga dapat memberikan kasih agape. Apabila para pembaca berkenan, dapat membaca kisah yang sangat luar biasa dan mengharukan dari pasangan dalam cerita love never fails.

Contoh ketiga. Seorang sahabat-pun juga dapat memberikan kasih yang walaupun. Penulis sangat yakin bahwa orang disekitar para pembaca ada orang yang akan memberikan kasih tersebut, walaupun tidak mempunyai hubungan darah dengan saudara. Walau mungkin ada beberapa orang yang tidak bertindak seperti itu. Bahkan Penulis pernah bertemu dengan seseorang yang Penulis tidak kenal, tetapi memberikan kasih agape. Suatu saat, ada seorang pengendara motor menolong Penulis, waktu motor Penulis mogok di tengah jalan. Dan pada saat kehabisan bensin, orang tersebut meniup lobang bensin motor saya (percaya ga percaya setelah itu motornya hidup) dan akhirnya Penulis sampai SPBU dengan selamat. Bahkan orang tersebut tidak mau dibayar.

Kesimpulannya adalah tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil dari keempat jenis kasih dalam bahasa Yunani, hanya saja kasih itu diungkapkan kepada seseorang dengan waktu, kondisi, jenis kelamin, usia dan pribadi yang berbeda!

B.6  Apabila kasih tidak ada urutannya, kenapa dalam Yoh.3:16 Tuhan memberikan Agape?
Mari kita lihat dalam ayat yang terkenal, yaitu Yohanes 3:16.
ITB: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

KJV: For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.

GNT: οτω γὰρ ἡγάπησεν ὁ Θεὸς τὸν κόσμον, στε τὸν υἱὸν αὐτοῦ τὸν μονογενῆ δωκεν, να πᾶς ὁ πιστεύων εἰς αὐτὸν μὴ ἀπόληται, ἀλλ᾿ χῃ ζωὴν αἰώνιον.

Bahasa Yunani dari kata kasih dalam ayat diatas adalah êgapêsen yang merupakan kata kerja - dalam bentuk aorist active indicative - third person singular, kata ini berasal dari kata αγαπαω - 'AGAPAÔ', mengasihi. αγαπη – AGAPÊ.

Tuhan memberikan kasih agape dalam Yoh.3:16 untuk menunjukkan kasih yang tanpa perhitungan (unconditional love) kepada kita. Jadi, Kasih Allah yang tidak dimiliki oleh manusia adalah kasih yang diberikan oleh Allah, seperti Yoh.3:16. Sehingga, fokusnya bukan di kata “kasih” tetapi pada kata “kasih Allah”. Fokusnya kepada siapa yang memberikan kasih tersebut, dan kata “kasih Allah” tidak boleh dipisahkan, karena apabila fokusnya di kata “kasih (agape) maka manusia-pun mampu memberikannya terhadap sesamanya.

Semahal-mahalnya sebuah gitar hanya jadi barang rongsokkan apabila tidak ada yang memainkannya. Begitu juga dengan pelajaran 4 jenis kasih ini, hanya akan menjadi teori, apabila kita tidak pernah menerapkannya kedalam kehidupan kita masing-masing. 


Sumber
Wisdom of God
Lewis, C. S., “The Four Loves (Empat Macam Kasih)”, Bandung : Pionir Jaya, 2010 cet.1.
E-Sword – The Sword of the LORD with an electronic edge
KBBI-Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.1
http://christianity.about.com
http://alkitab.sabda.org/dictionary
http://www.sarapanpagi.org






Thursday, November 22, 2012

antara KEBEBASAN dengan KETAATAN




Yang mana, yang paling anda suka… ketaatan atau kebebasan ? Saya yakin sekali, pasti para pembaca lebih menyukai kebebasan dibanding dengan ketaatan. Banyak orang yang suka sekali dengan kata BEBAS, termasuk penulis tentunya. Karena kebebasan itu terdengar unlimited (tidak terbatas), sedangkan ketaatan terdengar limited (terbatas).

Penulis pernah iri (waktu masih sekolah) dengan teman-teman yang mempunyai kebebasan dalam menggunakan waktu dan uang, seakan-akan mereka tidak mempunyai limit dalam menggunakan kedua hal tersebut. Yang membuat Penulis iri, karena Penulis tidak memiliki keduanya, baik kebebasan dalam hal waktu atau-pun dalam hal uang. Penulis dididik oleh seorang Bapa, yang disiplin dalam menggunakan waktu, sehingga harus pulang ke rumah lebih cepat dan bahkan tidak diberi uang jajan.

Jadi, pada dasarnya manusia sangat menginginkan kebebasan, tetapi pada kenyataannya, sangat tidak mungkin kebebasan yang unlimited itu diberikan kepada seseorang. Mari kita lihat contoh kebebasan yang terdapat dalam Alkitab.


CONTOH KEBEBASAN DALAM ALKITAB.
Kej. 2:15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
Kej. 2:16  Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
Kej. 2:17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Kej. 3:2  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
Kej. 3:3  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

Tidak dicatat dalam Alkitab bahwa Hawa tahu dari mana tentang perintah Tuhan itu, tetapi sebagai suami istri tentunya Adam menceritakan kepada Hawa tentang perintah Tuhan itu. Point yang Penulis ingin tekankan, bahwa Adam & Hawa diberi kebebasan yang sama, untuk makan semua buah di taman Eden (bayangkan kita makan di restoran yang all u can eat!), kecuali satu yaitu buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat.

Adam & Hawa sama-sama tahu tentang sebab akibat tersebut. Yaitu, apabila mereka makan (sebab), pasti mereka mati (akibat). Tetapi mereka memilih makan dan menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri (ay.14-19). Akhirnya, kebebasan yang Tuhan percayakan kepada Adam & Hawa telah hilang. Kebebasan hilang karena ketidaktaatan. Jadi seharusnya kebebasan harus disertai dengan ketaatan.


KEBEBASAN YANG DISERTAI DENGAN KETAATAN.
Seorang teolog jerman dan pendeta bernama Dietrich Bonhoeffer mengatakan, bahwa bagi orang Kristen ada hubungan yang sangat erat antara kebebasan dengan ketaatan. Kebebasan tanpa ketaatan adalah kesewenangan-wenangan, sedangkan Ketaatan tanpa kebebasan, adalah perbudakan. Keduanya sama-sama tidak kristiani.

Gal 5:1  Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
Sebagai anak Tuhan, memang kita telah bebas karena dimerdekakan dari belenggu dosa oleh Kristus, tetapi kebebasan yang kita miliki, harus tetap pada jalurnya Tuhan. Tadinya, kita adalah hamba dosa, tetapi karena kita sudah dimerdekakan dari dosa, kita menjadi hamba Tuhan. Jadi, Kebebasan yang kita miliki sebagai anak Tuhan, juga harus disertai dengan ketaatan.


HOW ?
Setelah kita tahu, bahwa sebagai orang bebas kita juga harus tetap taat pada firman-Nya, lalu bagaimana cara mewujudkan kebebasan yang disertai dengan ketaatan?  Mari kita lihat buah Roh dalam Galatia 5:23. Fokus Penulis hanya kepada salah satu buah Roh, yaitu penguasaan diri (ITB), Self-Control (NIV). Penulis memakai kata pengendalian diri dalam menterjemahkan self-control. Jadi, untuk mewujudkan kebebasan yang disertai dengan ketaatan adalah dengan pengendalian diri.

Pengendalian diri sangat penting, karena apa yang tidak kendalikan, maka hal itu yang akan mengendalikan kita. Contoh: LIDAH. Karena lidah dapat menghancurkan apa yang sudah dibangun (Yakobus 3:5-8). Dengan perkataan, kita dapat menghancurkan reputasi, pernikahan, hubungan, bahkan masa depan seseorang, hanya dalam satu malam. Contoh lain yang dapat mengendalikan kita adalah NAFSU MAKAN, SEKS, MATERI, MASA LALU, dll. Jadi, kita dapat dikendalikan oleh hal yang kita tidak kendalikan.

Begitu pula dengan kebebasan, apabila kita tidak bisa mengendalikan kebebasan, maka kebebasan-lah yang akan mengendalikan kita,dan  pada akhirnya kita tidak taat. Bicara tentang pengendalian diri, apakah setelah kita tahu bahwa kita harus mengendalikan kebebasan yang kita miliki,  dengan semudah itu kita mampu mengendalikannya? Tentu tidak, pengendalian diri bukan hal yang mudah, tetapi mari kita coba belajar tentang pengendalian diri yang benar.


PENGENDALIAN YANG BENAR.
Marthin Luther, sang reformator terkenal antara lain karena ungkapan-ungkapannya yang paradoksal. Ketika Luther menjelaskan ttg bagaimana situasi orang Kristen setelah ia dibenarkan oleh Tuhan, maka ia menyebutnya sebagai : simul iustus et peccator, artinya adalah orang yang benar, namun sekaligus berdosa. Maksudnya, kita adalah orang yang dibenarkan karena iman percaya kepada Yesus, tetapi sekaligus kita juga manusia yang berdosa. Apabila kita masih mempunyai potensi untuk berbuat dosa, berarti kecil sekali kemungkinan kita untuk dapat mengendalikan diri.

Pengendalian diri berarti, kita yang mengendalikan diri kita sendiri. ß pandangan yang kurang tepat! Karena, apabila kendali kita yang pegang, maka sangat mungkin kita jatuh di lubang dosa yang sama berulang-ulang. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa itu pengendalian diri yang benar?

Ada hal yang harus kita ingat, bahwa pengendalian diri adalah bagian dari buah Roh, bukan buah roh (perbedaan di huruf besar). Di dalam Galatia 5:22, kata buah Roh (ITB) diterjemahkan dipimpin oleh Roh Allah (IBIS). Jadi pengendalian diri yang benar adalah berikan kendali hidup kita ke tangan Tuhan Yesus Kristus. Biarkanlah Tuhan yang mengendalikan hidupmu!


KONKLUSI.
Kebebasan harus disertai dengan ketaatan, sehingga kita tetap pada jalurnya Tuhan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan pengendalian diri yang benar. Pengendalian diri yang benar adalah memberi kendalinya ke tangan Tuhan. Kendali dalam tangan Tuhan berarti, bukan lagi melakukan apa yang kita inginkan, tetapi melakukan apa yang Tuhan inginkan.

My quote : 
Self-control is not talk about how we can control ourselves. but about give the control to the hands of God.

Wednesday, November 21, 2012

Dancing in the Rain - Matius 8:23-27


Setiap manusia pasti mempunyai permasalahannya sendiri, anak kecil-pun ada masalahnya tersendiri, seperti belajar berjalan, mengeja huruf, dll. Jadi jangan pernah merasa masalahnya lebih berat daripada orang lain, karena setiap manusia mempunyai porsinya masing-masing. Seperti firman Tuhan berkata “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Jadi masalah yang kita hadapi, seharusnya kita sanggup menyelesaikannya.

Sehingga fokus kita bukan kepada masalahnya, tetapi kepada Tuhan yang kita sembah. Dan seharusnya kita-pun dapat menikmati masalah tersebut. Seperti judul artikel ini, yaitu Dancing in the Rain, yang artinya menari disaat hujan. Saya mendapatkan ilustrasi ini dari film India. Keunikan dari film India adalah, pada saat mereka ada masalah, mereka nyanyi, pada saat mereka di guyur hujan, mereka nyanyi, sehingga seakan-akan mereka dapat menikmati hidupnya, walaupun banyak masalah. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita dapat menari pada saat hujan (menikmati masalah)?  Seberat apapun masalah kita, seharusnya kita dapat menikmatinya, bukan menjadikannya sebuah beban karena kita punya Tuhan Yesus Kristus. Kita tahu, bahwa hal ini akan sangat sulit, tetapi berikut ini kita akan mempelajari, bagaimana cara menari diatas hujan / menikmati masalah lewat kitab Matius 8:23-27.


1. Mengikuti kehendak Tuhan Yesus.
(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.

Tuhan Yesus sehabis pelayanan (khotbah di bukit, menyembuhkan seorang sakit kusta, menyembuhkan perwira di kapernaum, menyembuhkan ibu mertua petrus dan orang lain). Tentu dapat dilihat kondisi fisik Tuhan Yesus pasti sangat lelah. Murid-Nya-pun ikut pelayanan pada saat itu, dan kondisi fisiknya juga sama dengan Tuhan Yesus. Mereka sama-sama lelah dan capai. Murid Tuhan Yesus disini harus diteladani, yaitu mereka tidak hanya ikut-ikutan saja, tetapi mereka benar-benar dalam keadaan yang sangat lelah, tetapi tetap mau mengikuti kemana Yesus pergi. Jadi, apakah kita mau mengikuti kehendak Yesus (tetap ibadah, berdoa, sukacita, mengucap syukur), walaupun dalam keadaan sedang lelah/capai/banyak masalah sekalipun ?


2. Mempunyai cara pandang yang benar.
(24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

Seismos (σεισμός) adalah kata Yunani yang dipakai Matius untuk angin ribut. Yang artinya adalah gempa bumi (earthquake). Dan kata ini merupakan akar kata seismologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi. Karena itu, angin ribut yang dikatakan di sini (the great storm), sebetulnya boleh dikatakan sebagai gempa bumi di laut (tsunami). Tsunami (bahasa Jepang) 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah.

Angin ribut / tsunami / masalah yang dihadapi terlalu besar, bahkan bagi orang yang berpengalaman seperti petrus dkk. yang seorang nelayan. Disini kita dapat belajar, bahwa dalam mengikut Tuhan bukannya enak tetapi pasti ada masalah, bahkan masalah itu datangnya “suddenly” artinya tiba-tiba. Pada saat masalah datang, muridnya melihat Yesus tidur. Wajar karena Dia letih secara jasmani, karena pelayanannya yang sangat padat sebelum kejadian ini (bisa dibaca dipasal-pasal sebelumnya). Kita sering melihat bahwa Yesus “terlihat” tertidur pada saat masalah menerpa hidup kita. Karena yang kita gunakan adalah mata jasmani kita. Tuhan yang kita sembah itu Roh, seharusnya kita melihat dengan mata Roh kita bukan melihat dengan mata Jasmani kita. Sehingga cara pandang kita seharusnya melihat Allah yang jauh lebih besar kuasanya daripada gelombang tersebut.


3. Mengandalkan Tuhan.
(25) Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."

Murid Yesus panik (freaking out!), karena mereka berkata “Tuhan tolonglah kita binasa.” Yang menandakan keputus-asaan mereka. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan ketakutan, rasa cemas, kesedihan yang kita rasakan, tetapi yang salah apabila hal itu sudah menguasai kita. Hidup kita harus berpusat kepada Tuhan, sehingga apabila ada masalah dalam hidup kita, maka pribadi yang harus kita andalkan adalah Tuhan, bukan orangtua, saudara, pasangan, dll.

Kita bisa meminta nasihat kepada orang disekitar kita, tetapi tetap Tuhanlah yang harus kita temui pertama kali dengan berdoa. Jadi bila orang disekitar kita tidak bisa menemani atau memberi nasihat kepada kita, kita tidak kecewa, karena pusat hidup kita adalah Tuhan. Manusia seringkali mengecewakan, tetapi Tuhan tidak akan.


4. Percaya.
(26) Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Kata “Kurang percaya” dalam ayat ini, di terjemahan aslinya, yaitu bahasa Yunani adalah ὀλιγόπιστος – oligopistos (ol-ig-op'-is-tos); berasal dari kata oligos dan pistis. Artinya adalah iman yang kecil. Seringkali kita sudah melihat banyak mukjizat dalam kehidupan kita (bernafas, dicukupi setiap hari, dll) tetapi kita masih saja memiliki iman yang kecil bila kita sedang dihadapi masalah yang terlalu besar. Kita khawatir terus menerus dengan masalah yang sedang kita hadapi. Orang yang khawatir adalah orang yang memiliki iman yang kecil, seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Orang seperti ini termasuk Ateis Praktis, dia percaya kepada Tuhan tetapi bila ada masalah tidak percaya kepada kuasa Tuhan, dia lupa yang memberikan nafas hidup itu adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Karena orang seperti ini, fokus hanya pada masalahnya bukan kepada Tuhan. Ingat, Tuhan yang kita sembah adalah Allah Maha Kuasa, Dia sanggup memulihkan kehidupan kita.


5. Kenali Allah kita.
(27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Kita harus mengenal Tuhan lebih dalam, jangan sampai Dia melakukan sesuatu yang besar buat kita, tetapi kita tidak mengenali Dia secara pribadi. Murid-murid tahu bahwa Tuhan Yesus berkuasa, tetapi mereka tidak mengenal lebih dalam, padahal sudah banyak mukjizat di dalam kehidupan mereka, bahkan mereka baru menyaksikan beberapa mukjizat di depan mata mereka sendiri.

Cara mengenalnya adalah dengan mencari tau tentang Dia. Mencari tahu tentang Dia bukan sekedar “search” tetapi juga harus “seek”, yang berarti mencari sampai dapat. Mencari tahu tentang Yesus tentunya bisa kita cari lewat salah satu penyataan khusus Allah, yaitu Alkitab. Disini kita dapat mengenal Tuhan yang kita sembah lebih dalam lagi. Tentunya tidak lupa untuk berdoa untuk hubungan pribadi kita dengan Bapa di sorga.

Konklusi
Apabila kita sudah melakukan kelima hal diatas, yaitu mengikuti kehendak Tuhan Yesus, mempunyai cara pandang yang benar, mengandalkan Tuhan, percaya dan kenali Allah kita lebih lagi, maka seharusnya kita dapat menari pada saat badai hidup datang. Karena kita mempunyai Allah yang Maha Kuasa, dan kita mampu untuk menikmati masalah yang ada di dalam kehidupan kita.


My quote:
Hidup bukan tentang bagaimana menunggu “hujan lebat” berhenti, tetapi tentang bagaimana kita dapat menari pada saat datang “hujan lebat”.



Tuesday, November 6, 2012

SALVAGE THE SUNDAY - Ibrani 10:19-25 – part 2.



II. To Do !
Setelah kita menyadari bahwa Ibadah adalah anugerah dalam Salvage the Sunday part 1, maka selanjutnya, penulis akan membahas tindakan praktis yang dapat kita lakukan.

1.   Persiapan sebelum ibadah.
Ibr. 10:21  dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
Ibr. 10:22  Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Dalam beribadah kita akan menghadap Imam Besar yang sekaligus kepala Rumah Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sehingga kita harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum bertemu dengan Raja segala Raja. Mempersiapkan diri dalam penampilan sangat penting, tetapi yang terutama adalah mempersiapkan hati kita! (ay.22).

Appearance is important, but more important is the heart.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan hati sebelum beribadah. Berikut ini adalah beberapa contoh praktis yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan diri, dengan meneladani dari beberapa penulis buku yang terkenal.

1.  John Piper percaya, bahwa mematikan televisi adalah salah satu cara terbaik mempersiapkan hati kita untuk menerima firman Allah.

2.  Joshua Harris menyarankan agar kita mempersiapkan hati untuk menerima firman Allah tidak hanya dengan menghindari hiburan duniawi, tetapi juga menetapkan waktu pada sabtu malam untuk membaca Firman Tuhan dan berdoa.

3.  Pada saat kita sudah sampai di Gereja, jauh lebih baik kita berdoa terlebih dahulu. Sehingga hati kita tenang dan siap untuk beribadah.


2.   Pada saat Ibadah.
Setelah kita mempersiapkan diri lewat penampilan dan hati kita. Maka selanjutnya kita juga harus memperhatikan pada saat ibadah. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan lakukan.

A. Berharap kepada Tuhan.
Ibr. 10:23  Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Kita dapat mengutarakan seluruh harapan kita pada saat Ibadah. Karena memang isi Firman Tuhan  adalah janji-janji Tuhan. Kita dapat mengeluarkan isi hati pada saat pujian dinaik-kan, pada saat menyembah Dia atau-pun pada saat berdoa.

B. Memuji Tuhan lewat nyanyian.
Maz. 148:13  Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.

Pada saat ibadah dimulai, ingatlah bahwa tujuan kehadiran kita bukanlah untuk dihibur, Gereja bukan gedung bioskop. Kita bukan bagian dari penonton, tetapi kita adalah bagian dari jemaat yang merupakan satu tubuh Kristus. Sehingga kita mengeluarkan suara nyanyian untuk memuji Tuhan. Kita bernyanyi bukan karena suara kita bagus, tetapi karena hanya Tuhan-lah yang layak menerima pujian tersebut. Jadi fokus pada saat kita bernyanyi bukan kepada diri kita, tetapi kepada kebesaran Tuhan dan kemuliaan hanya bagi Tuhan.

C. Mendengarkan khotbah.
Mal. 2:2  Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan.

Tatkala firman Allah dikhotbahkan, kita tidak sekadar menerima informasi mengenai Allah, karena Allah sendirilah yang berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Sehingga kita harus menghormati siapa-pun yang dipakai Tuhan utk berkhotbah. Mungkin pengkhotbahnya masih muda, tidak lucu, tidak terkenal, khotbahnya singkat, dll.  

Suatu kali, saya pernah mendengarkan pengkhotbah yg biasanya menjenuhkan. Setiap kali saya tahu bahwa giliran pendeta tersebut yang berkhotbah, maka dalam pikiran saya langsung ada penolakan secara tidak langsung. Jujur saja, saya benar-benar jenuh mendengarkan khotbahnya, mungkin pembawaannya yang kurang baik, sehingga membuat orang yang mendengarnya jenuh.  Tetapi setelah saya belajar di posisi jemaat yang benar-benar mau belajar mendengarkan, saya mendapat pelajaran yang baru dari khotbah tersebut, walaupun pembawaannya masih tetap sama.

Dari cerita ini saya belajar, bahwa seringkali kita tidak mendapatkan pelajaran apa-apa pada saat khotbah, karena kita tidak mendengarkan dengan baik. Jadi letak kesalahan seringkali bukan di Pendetanya, tetapi sikap kita sebagai jemaat yang mem-vonis bahwa pendeta ini tidak pantas, tidak lucu, tidak enak didengar, dll. Sesungguhnya beban tanggung jawab yang harus ditanggung setiap ibadah berlangsung, bukanlah bagaimana penampilan sang pengkhotbah, melainkan bagaimana jemaat mendengarkan.

The important thing is not how the appearance of a preacher, but how the church listening.

Saya tidak membela siapa-pun dalam hal ini, namun para Pendeta harus berjuang keras untuk membuat khotbah mereka mudah dimengerti dan menarik, tetapi akhirnya, mendengarkan dengan saksama dan menerapkan kebenaran firman Tuhan yang mereka dengar tetap menjadi tanggung jawab jemaat. Jadi pertumbuhan rohani ditentukan bagaimana kita mendengarkan firman Tuhan dengan baik yang dipenuhi dengan rasa hormat.

D. Mempersembahkan korban bakaran.
Mal 1:7  Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!"
Mal 1:8  Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.
Mal 1:10  Sekiranya ada di antara kamu yang mau menutup pintu, supaya jangan kamu menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak suka kepada kamu, firman TUHAN semesta alam, dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu.

Ketika kolektan berkeliling dengan kantong persembahan, sudahkah kita menyiapkan persembahan yang terbaik? Ingatlah, bahwa cara kita memberi merupakan perhatian mendalam bagi Tuhan. Dia sangat peduli pada cara kita mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tuhan tidak suka dengan persembahan yang cacat. Dalam hal ini, maksudnya adalah, (Ay.8) Tuhan akan menolak persembahan yang diberikan dengan asal-asalan.  Seperti perbuatan umat Israel dalam kisahnya di kitab Maleakhi 1:7-10. Jadi berikanlah persembahan yang terbaik bukan yang termahal. Karena mungkin nominal kolekte kita tidak banyak, tetapi apabila kita mempersiapkannya dengan baik dan dengan hati yang tulus, maka kita sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan.


3.   Setelah Ibadah.
Yak. 1:22. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
Yos. 1:8  Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Setelah kita mempersiapkan diri dengan baik sebelum beribadah dan memperhatikan apa saja yang harus dilakukan dengan baik pada saat ibadah, maka yang harus diperhatikan juga adalah apa yang harus kita lakukan setelah beribadah. Hal ini tidak kalah pentingnya, yaitu menjadi pelaku firman Tuhan. Untuk menjadi pelaku firman Tuhan, tidak cukup hanya mendengar, tetapi juga harus merenungkan firman tersebut siang dan malam dan meng-aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu saat ada seorang bernama Alex, dia adalah seorang karyawan dalam satu perusahaan. Ada hal yang dilakukan Alex dengan luar biasa setelah  mendengarkan firman Tuhan hari minggu. Hari senin ia datang pagi-pagi ke kantor untuk merenungkan kembali firman Tuhan yang telah diberitakan hari minggu kemarin dan mempraktekannya.

Dalam Alkitab, tidak ditulis bacalah firman Tuhan siang dan malam, tetapi renungkanlah siang dan malam (Yos.1:8). Merenung jauh lebih baik dari pada membaca, karena dengan merenung, kita tidak sekadar membaca, tetapi mengerti, mendalami, mengupas apa yang kita baca dan dalam perenungan kita akan mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa. Tentunya setiap individu yang merenungkan firman Tuhan akan mendapatkan makna yang berbeda. Membaca dan Mendengarkan firman Tuhan membutuhkan  tempat dan waktu, tetapi istimewa dari merenung adalah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kita dapat merenungkan firman Tuhan kapan saja dan dimana saja, itulah sebabnya kita harus merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Jadi jangan pernah biarkan firman Tuhan setiap ibadah berlalu seperti angin.


4.   Berkomunitas.
Ibr. 10:24  Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
Ibr. 10:25  Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Gereja dalam bahasa inggris, diterjemahkan Church, sedangkan Jemaat diterjemahkan Church. Berarti dapat diartikan, berjemaat dalam satu Gereja sama dengan Berkomunitas. Dan setiap jemaat adalah bagian dari Gereja tersebut, atau biasa yang disebut dengan tubuh Kristus, bukan pengunjung. Sehingga sesama jemaat seharusnya saling memperhatikan satu dengan yang lain. Komunitas yang benar dan baik adalah komunitas yang saling memperhatikan, saling mendorong dan saling menasihati.

Saya sering memperhatikan orang-orang yang setelah pulang dari Gereja, biasanya mereka langsung pergi tanpa memperdulikan jemaat yang lain. Karena mungkin di kota Jakarta adalah kota yang sibuk, sehingga hari minggu bagi beberapa orang, bukan sekadar ke Gereja, tetapi waktu dimana mereka liburan atau waktu bersama keluarga. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi kita harus mengingat diri kita sebagai anggota jemaat. Kita adalah bagian dari Gereja, bukan penonton atau bahkan pengunjung, sehingga seharusnya kita meluangkan waktu sejenak dengan sesama jemaat. Karena, bagaimana kita bisa saling menasihati, apabila bertegur sapa antar jemaat saja tidak pernah. Mari kita luangkan waktu setelah ibadah selesai untuk berkomunitas.


Konklusi.
Ibr. 10:25  Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Selamatkanlah hari minggu atau setiap ibadah yang anda jalani dengan penuh ucapan syukur, dan dengan cara memaksimalkan 2 jam selama ibadah berlangsung. Sehingga kita tidak menjalani ibadah hanya sekadar rutinitas yang kita lakukan sebagai orang Kristen. Lakukanlah dengan giat menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Selamat hari minggu!
Selamat beribadah!

Tuhan Yesus memberkati